Rabu, 21 April 2010

PANTUN KHUSUS DEWASA

daun sirih daun kelor
apa isi dibalik kolor
satu pistol dua pelor


buah kecapi rasanya kecut
apa isi dalam cancut
dua bibir yang berrambut lagi cemberut.


jinak2 burung merpati
lebih jinak burung lelaki ……..
burung merpati dipegang lari
burung lelaki kalau dipegang berdiri


seringgit si dua kupang
sandal jepit buatan jepang
apa itu di balik kotang
lembek2 tidak bertulang
kalau dipegang malah menantang
bikin batang menjadi tegang


burung pipit makan kedondong
minta duit dong,,,,,,,?
jawab sang suami
burung pipit makan kedondong
burungku dijepit dulu dooooooonnnnnng.
ha……ha……ha……ah…..
»»  READMORE...

Saat CINTA Datang

saat cinta ini datang
kau laksana tetesan putihnya salju
dalam padang yang gersang
rinduku merambat hingga di arsi
teriring dengan percikan air sungai nil
yang terkuras bersama anganku
rasa dan anganku hantarkan aku
dalam takdir yang ada
cinta dan rinduku iringi aku
dalam lembah munajat pengharapanku
sungai terpanjang setelah nil,,
adalah rinduku
jika kau berpaling aku rela
karna aku tak sempurna untuk kau cintai
maka dengarkan alam yang berkata
percikan air,,adalah saksi yang menyatu
bersama anganku
arena cintaku dan cintamu
terlukir dalam takdir cinta..
CINTA..
Dtgnya tanpa dduga,
Ia dtg mbwa kbahagiaan..
Andai mghargai,mghayati,mgerti
apa itu cinta..
CINTA.
kadangkala menyakitkan,
Andai tidak mengenal,memahami
apa itu cinta..
Wahai pecinta sekalian,
Jagalah cintamu dgn tulus hatimi
jagalah cintamu dgn kjujuran
Jauhkan cintamu dr trpesong omak &duri y mnikam kamu dblkang..
Ssungguhnya CINTA itu mbhagiakan
Bkan myakitkan..
»»  READMORE...

TAK BISA MELUPAKANMU

Jujur ku katakan kepada mu
aku sayang kamu
Aku mencintaimu setulus hati ku
Bagi ku hanya kaulah penerang hidupku
T’lah berulang kali ku coba
Mencari pengganti dirimu
Membuka hati untuk yang lain
Namun semua sia-sia
Dan ternyata cinta ini hanya untuk mu
Mungkin memang aku yang bersalah
Karna ku tak pernah menjadi seperti apa yang kau mau
Andai ku memahami dirimu lebih dari segalanya
Pasti kau dan aku akan bersama selamanya
Tapi kini kau pergi tinggalkan aku
Kasih………….
Salah kah aku tak bisa menjaga hatimu di hati ku
Salah kah aku tak memahami dirimu
Kasih…………
Kini aku kan melupakan mu
Aku kan mencoba membuka hati tuk yang lain
Aku terus mencoba dan terus mencoba melupakanmu
Namun aku tetap tak bisa
Karma Hanya hati mu yang kini ada dihatiku
Sampai kapanpun kau kan selalu dihati ku
Dan sampai kapan pun aku tak kan bisa melupakanmu
»»  READMORE...

KEKASIH

Kekasih…
Laksana cermin dalam resonansi jiwa
Yang menggetarkan palung hati hingga keraga
Dan menghantarkan kehangatan bara
dari bekunya hati sang kelana
kekasih…
kesetiaan agung pada dera kerinduan
laksana pantai menanti ombak dalam pelukan
yang teredam pada dalamnya kebisuan
kekasih…
seperti bunga yang menjaga tingginya kuncup
pucuk-pucuk kasihmu tak juga meredup
mencumbui lautan sukma yang kuyup
dalam serenade desiran angin sayup
kekasih…
karang-karang kesabaran yang tumbuh di lubuk kalbu
meleburkan kebimbangan sang peragu
saat luka kuburkan semburat hasrat perindu
dari kelam kelabu cerita lalu
kekasih…
butiran hujan yang jatuh selayak mutiara
terbungkus rapi dalam kado asa
untuk kau buka jika saatnya tiba
andai mampu kusibak jendela masa
kekasih…
sanjung puji dalam serambi janji
terucap lugas pada paras sejati
demi ikrar atas cinta suci
rekatkan dua hati yang terpatri
»»  READMORE...

Jumat, 16 April 2010

Di Atas Sajadah Cinta

Cerita cinta-Di Atas Sajadah Cinta. Akhirnya blog cerita cinta menampilkan cerita cinta terbaru juga heheheh. Seorang teman mengirimkan cerita cinta yang berjudul Di atas sajadah cinta. Cerita ini berbau islami dan menurut saya cukup menarik untuk di baca. Kalau saya ceritakan bagaimana kesimpulan ceritanya, kayanya ga ramai ntar ya hehehhe. Mending kamu baca sendiri aja deh.

Di Atas Sajadah Cinta

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.

qad aflaha man zakkaaha.

wa qad khaaba man dassaaha

…”

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,

sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya

…)

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.



***



Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si

musyriqun bi dhau’

wal hubb al wariq

…”

(jika aku pencinta malam maka

gelasku memancarkan cahaya

dan cinta yang mekar

…)



***



Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

“Bagaimana, kau terima atau…?”

“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”



***



Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

“Be…benarkah?”

“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”

Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.



***

Keesokan harinya.

Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

“Aku mau melanjutkan perjalananku!”

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.

“Tidak usah.”

“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.



***



Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.



***

Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”



***



Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.



***



Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,







Kepada Zahid,



Assalamu’alaikum



Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.

Zahid,

Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.



Wassalam

Afirah



===============================================================



Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :







Kepada Afirah,



Salamullahi’alaiki,



Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

Afirah,

Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )

Afirah,

Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :

“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”

Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.

Afirah,

Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.



Wassalam,

Zahid



===============================================================



Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :







Kepada Zahid,



Assalamu’alaikum,



Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.



Wassalam,

Afirah







===============================================================

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.
»»  READMORE...

Andai Aku Orang Kaya

Tulisan kali ini adalah sebuah kisah nyata atau cerita cinta yang benar-benar dialami oleh seorang teman saya yang meminta kisah dia di poting kan

Yuk langsung aja kita baca cerita kiriman dari seorang teman ini yang berjudul andai aku seorang kaya.

Nama ku Romi (bukan nama sebenarnya), aku adalah seorang yang telah berusia 24 tahun, dan kini aku cukup bahagia dengan seorang istri dan anak yang kumiliki. Awalnya kisah ku berjalan sangat indah. Tak ada yang membuatku merasa lebih bahagia daripada bersama mereka.

Hari-hari kulalui dengan mencari cara untuk membahagiakan mereka, memang aku bukan seorang yang serba berkecukupan, tapi dengan apa yang sudah kudapat aku sangat senang karena apa yang kulakukan disambut dengan senyum indah di wajah istriku. Namun, memang ini juga salahku, waktu ku lebih banyak kuhabiskan untuk mencari peluang, bahkan sering kali aku tidak pulang ke rumah karena harus terus mencari peluang dalam satu hari (24 jam) yang kujalani...

Akhirnya istri ku pun merasa bahwa apa yang kulakukan itu sia-sia!!!. Karena apa yang kudapat tidaklah seberapa. Memang kata-kata yang diucapkannya tidak langsung membahas masalah ini, tapi sering kali dia menyindir dengan kata-kata yang sedikit menyakiti hatiku.

Ketika itu aku pulang dari pekerjaanku yang hanya seorang pemimpi dan menjalankan karir di dunia yang kata orang tidak mungkin, aku pulang dalam keadaan lelah dan sudah bekerja lebih dari seharian. Memang aku tidak membawa seperpun uang di dompet ku yang bisa kuberikan untuk istri tercinta. Kata-katanya adalah "habisin aja uang itu terus!!!".

Aku tahu, istriku dulu adalah seorang berada, tapi kini keadannya berubah semenjak nikah denganku. Aku hanya bisa berharap, apa yang kulakukan ini adalah benar, karena aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Setiap kali aku bekerja, aku selalu mengingat mereka untuk mengembalikan semangat ku.

Tapi jujur, hati ku kini benar-benar perih....dan sangat perih, ketika aku sedang ingin pergi mencari peluang yang selalu menjadi mimpiku. Aku sempat bertengkar kecil dengannya. Salahku juga, karena aku bersikap egois, tapi mataku seakan ingin menangis ketika mendengar "sudah ngabisin banyak uang, masih aja!!!!!"...katanya kepadaku dengan wajah yang terlihat benci, ketika aku sedang bersemangatnya ingin kembali bangkit dari ke putus asaan yang kurasakan. Aku tahu apa maksudnya, ia mungkin ingin memperjelas apa yang telah kulakukan selama ini hanyalah sebuah kebodohan belaka!!! dan hanya sebuah khayalan belaka!!!.

Apa istri ku sudah bosan dengan keadaan seperti ini, dan ditambah lagi seringkali dia melihat teman atau saudaranya menikmati hari dengan bahagia dan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sementara dia hanya diam dan tak bisa berkata ketika teman-temannya menunjukkan kekayaan mereka.

Aku berkata dalam hati "andai aku adalah seorang yang kaya". Aku pastikan memenuhi semua yang mereka minta...semuanya. Sekarang aku hanya bisa memberikan sebuah harapan, tapi aku rela melakukan apa saja saat ini untuk membuatnya tersenyum, apapun...bahkan aku rela menukar hidupku ini untuk mereka jika Yang maha kuasa tak juga memberiku sebuah jalan, asal mereka tersenyum dengan kepergianku.

Maafkan aku yang tak sempurna, dan maafkan aku yang tak seperti yang kamu inginkan. Jika aku harus pergi, maka aku akan pergi asalkan kamu bahagia. Tapi aku akan selalu memberikan segenap cinta yang kumiliki ini untuk seorang yang paling kusayangi, yaitu kamu...
»»  READMORE...

Tak Terjawab

Aq terdiam membisu . . . .
kemana bulan malam ini . . .
Cahayanya yang temani hari-hariku . . .
Pudar . . .
Redup . . .
Tak bercahaya . . .
Dingin merambah . . .
kemana selimut hatiku . . .
sulaman asa tuk langkahku . . .
Dengan benang cinta masa lalu . . .
Terjaga . . .
Dimana kata2 yg buai aQ ke alam mimpi . . .
Dimana senyuman rembulan . . .
Pendorong langkah esok . . .
Dimana . . .
Dimana . . .
Dimana . . .
Ach . . . .
Mungkin ketulusan sinar rembulan tertutup awan . . . .
atau Dia bersembunyi dibalik gunung . . .
atau Di bawah ranjang . . .
atau . . .
atau . . .
Bak angin lalu . . .
Dikala sore bulan tersenyum dibarat . . .
Ditengah malam dia menghilang dGn kebosanan . . .
--
»»  READMORE...

Cinta Itu Boross

saat ku ingin menyapa ku butuh pulsa
saat kau merindu kurelakan kuras uang saku
tiap kali kau minta bertemu
warung padang pasti menunggu
tiap kali kau beri mesra
hanya krena ada yang diminta
huh, sampai kapan cinta harus selalu berkorban
padahal kurban setahuku hanya idul adha
aku tahu cinta memang butuh biaya yang pasti
tapi biaya tak selalu bisa berikan cinta sejati

oh Tuhan tunjukkanlah aku jalan yang lurus
agar Paypal tak terus mengurus
hanya karena cinta yang tak bisa merasa
membuat ku boros padahal belum jadi apa-apa
hei cinta, mending lu kelaut aja ya, da daaaa...........
»»  READMORE...

CINTAKU HANG

saat kursorku tak lagi berkedip
saat loading nafasku tak juga berkelip
ku coba tuk teruskan menge-klik
meski yang ku ingat hanya tombol escape
monitor hatiku sememangnya menyala
tapi tak satupun warna yang mau merona
terlebih virtual memory cintaku makin lambat melaju
harus segera kupastikan mendefrag regystry hastiku
ku klik tombol start tak lagi mau mengangkat
berkali kali CTRL ALT DEL tak lagi ada yang dibisa perbuat
kusudahi saja deep Freez di harddisk jiwaku
hingga kuputuskan saja untuk mencabut sakalar listrikku.....
»»  READMORE...

Salah JALAN

Senja di depan mata
Hati resah takut kegelapan malam
Harap sinarnya terangi jalan pulang
Tapi mendung selimuti cahayanya
Aku bingung melangkah
Tak tahu jalan pulangSenja di depan mata
Dinginnya mulai terasa menusuk
Nyala api kecil tak cukup hangat
Hanya selimut kesederhanaan beri kehangatan
Malam mulai merambah
Kelelahan tak terbendung
Berjalan tertatih dengan kebodohan
Dimanakah kau kawan?
Dimanakah kau pujaan hati?
Dimanakah kekuatan diri?
Malam mulai merambah
Hujan membasahi diri
Petir menyambar menyiutkan nayli
Aku duduk terdiam
Menggigil kaku penuh penyesalan
Tuhan uLurkan tangan-Mu
Tunjukkan jalan pulang
Aku ingin temui kekasih hati
»»  READMORE...

Pengorbanan Cinta

Masihkah.........!
ada cinta dihatimu..........?????
Andai cinta itu seperti kaca yang pecah
Biar ku pungut
Serpihan kaca itu
Biarkanku berdarah,,,,
Biarkanku menangis kesakitan,,,
Karna Cinta adalah pengorbanan,,
Disini aku yang tak rupawan
memberikan cahaya lilin yang tak pudar untukmu,,,,
Disini aku yang tak sempurna,,,
Ingin membuktikan bahwa kaca yang pecah
bisa utuh kembali dengan ketulusan,,,,
kesetiaan,,,
dan pengorbanan.
itulah namanya cinta
»»  READMORE...

SEMPURNA

sebuah anugrah terindah yang kurasa
saat cinta hadir menghiasi hidupku
tak henti2 nya ku memikirkannya
senyumnya indah
bagaikan pelangi mengindahkan langit
tingkahnya bagaikan embun pagi
yang menyejukkan mata hati ini dikala pagi
dia sempurna bagi hidupku
dia yang tenangkan ku
dia yang membangunkan ku saat ku terjatuh
dan ku rasa hanya dia yang sempurna dimata ini
sempurna itu dia
dia pemilik hati ini
sekarang,,,,
dan ku harap SELAMANYA
»»  READMORE...

Nafas Cintamu

hati ini trasa sunyi tanpa nafas cintamu,,
hidup ini sepi tanpa senyuman darimu
diri inisenyap tanpa jiwa kasih mu,,
ruang hatiku gelap tanpa arah tuk melangkah
cinta,,,
mengapa semua harus terjadi???
mengapa disaat terang dunia kalbuku kau berlalu
kau tinggalkan sepenggal dusta dalam rasa,,
cinta..
aku hanya mampu memeluk rasa
memeluk mimpi senja yng kelabu
meniti harapan fajar kelana,,
cinta..
kau buat aku tak yakin untuk melangkah
kau beri aku segenggam luka
mengapa cahaya pelangi menjadi api,,
selamat jalan cinta,,
selamat berbahagia di atas luka ku,,
biarkan kata merangkai hati serupa darah dibalik tirai…
»»  READMORE...

Cinta Butuh Ketulusan

Cinta itu nggak harus diucapkan lewat kata ….
Cinta itu nggak harus di ucapkan lewat bahasa …
Cinta itu nggak butuh rayuan yang nggak pasti …
Cinta itu hanya butuh kesetiaan …
Cinta hanya butuh kepastian dan keikhlasan …
Cinta hanya butuh ketulusan …
yang muncul dari hati yang paling dalam …
dengan penuh ketulusan…
siapa yang menganggap cinta itu sementara …
maka ia lah orang yang paling bodoh …
jika ia mengalami cinta yang sementara ….
maka yang dia alami bukanlah cinta ….
di dalam cinta ….
tidak ada penghianatan ….
tidak ada kepedihan ….
karena cinta itu harus tulus …..
»»  READMORE...

Forgive me, I Love Him

aku beruntung telah menemui wanita seperti kamu karena bagiku kamu adalah harapan hidupku nanun apalah arti semua ini beruntung tak bisa diraih malang tak bisa ditolak tapi aku yakin dengan hati sabar,ikhlas pasti semua ini akan berlalu

""fOrGive mE,i LoVe hiM,i FoNd hiM.. "hE wHo nEvEr aSk aNythiNg abOut mY dEePeSt fEeLing.. "hE wHo nEvEr tRy tO uNdErstAnd aBouT mE.. "hE wHo tAkE mY dReAms aWay.. "hE wHo aLwaYs mAke mE thiNk aBouT hiM.. AND HE IS YOU….""

"ku Ingin kau tau diriku disini menanti dirimu…."

"Indahnya perkenalan jika bersulamkan keikhlasan, moleknya persahabatan andai setia yang dipertaruhkan dan untungnya bercinta jika kekal selamanya"

Bintang yang terang
sinarmu sungguh indah
keindahanmu mengingatkan aku
pada seseorang…………
dimana aku sangat merindukannya
malam yang begitu sunyi……….
mengapa dia tak hadir untuk menemaniku
angin yang berhembus dengan kencang……….
Tuhan sampaikan salam ku padanya
bahwa aku sangat merindukannya
kuingin dia selalu mencintaiku
dimanapun dia melangkah
Setiap kataku adalah kata cintaku padamu
dihati ku hanya ada satu nama
yaitu namamu yang tlah lama terukir dihatiku
aku hidup untuk mencintaimu
hingga mati akan ku kenang dirimu
»»  READMORE...

Jatuh CInta

Jatuh Cinta
duduk terdiam....
diam-diam ku pandang wajahmu....
terbuai rasa decak kagum oleh paras cantik mu...
ingin rasanya ku berdua dengan mu...
setiap saat, setiap waktu...

namun sayang.....
kita berdua terhalang oleh jarak dan waktu....
Sehingga kupendam samua rasa di hati ku...
entah sampai kapan aku harus menunggu...
ingin sekali rasanya ku nyatakan rasa yang ada di hatiku....

duhai bidadari ku....
tak sanggup lagi ku menunggu...
tuk nyatakan isi hati ku...

kurangkai ini semua hanya untuk mu...
entah apa kau tau...
tentang puisi ku ini....
»»  READMORE...

Mawar Muda

Jika aku menunggu mekarmu penuh
Akankah harummu mampu kurengkuh
Di sini --menanti, kuncupmu tumbuh
Sembari cemas ini tak jua mau luruh

Di bawah semburat putihmu nan teduh
Anganku mengembara mengkhayal jauh
Sepucuk kata terkulum, akankah jatuh
Di antara desah resah penuh kisruh

O mawar muda nan ayu bersahaja
Dalam panas mentari, elokmu menebarkan makna
Menepiskan duka, menghantarkan bahagia
Menarik segenap alam tuk hening memuja

Bagai bidadari, kau mewujud dalam kembang
Mengalirkan manis madu pada sejuta kumbang
Meski badai bertiup, kau tetap tegak tak tumbang
Ketegaranmu seakan mengapus ragu dan bimbang

Di penghujung musim berselimutkan mega,
Bermain-main engkau dengan angin kelana
Dan sang bayu terus saja nakal nekat menggoda
Malu-malu memuji indahmu, angin berkata

Sepoi-sepoi bercanda di antara kelopak lentik
Semilirnya menitipkan embun sepercik
Sebagai sajak rayuan yang lembut menggelitik
Padamu, mawar muda, O yang teramat cantik

Namun musim ini mesti segera berganti
Mengikuti kemana bintang gemintang menunjuk tinggi
Sang angin pergi, berjanji dalam diam tuk kembali
Meski masa depan tak memberi jawaban pasti

Jauh di sini, aku terus menorehkan rindu
Tentang sekuntum mawar di bawah langit biru
Dan aku hanya bisa menerawang membisu
Sebab waktu tak sedang berpihak padaku

Di suatu masa, saat aku kembali datang
Masihkah kau di sana, di hamparan padang
Tak terpetik, hidup bebas dengan riang
Menghirup cucuran hujan bersama ilalang

Dan jikalau akhirnya takdir kemudian mengijinkan
Kuundang kau ke tanahku di sebrang lautan
Kugenggam benihmu, kubawa pulang dalam hembusan
Kutanam, dan selamanya kurawat di tengah taman
»»  READMORE...

Cahaya Bulan

Isi: Akhirnya semua kan tiba pada suatu hari yang biasa.
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kmejaku
Kabut tipispun turun pelan-pelan dilembah kasih
Lembah pandara wali…

Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram..
Meresapi belaian tangan ini menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dulu?
Ketikaku dekap, kau dekaplah lebih mesrah…
Lebih dekat…

Apakah kau masih kan berkata, ku dengar detak jangtungmu
Kita begitu berbeda dalam semua..
Kecuali dalam cinta…
»»  READMORE...