Pages

Minggu, 05 Desember 2010

KARYA ILMIAH PUISI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Puisi adalah karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan penuh makna. Keindahan puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima dan irama yang terkandung dalam puisi tersebut. Seorang penulis menciptakan puisi disebabkan  ia mempunyai persoalan atau masalah yang ingin dikemukakan dan bisa juga disebut puisi adalah ungkapan hati sang penulis. Jika puisi tersebut berisi tentang kekecewaan , kesedihan maka sudah jelas si penulis sedang merasa sedih. Tiap-tiap penulis mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengemukakan persoalan tersebut. Ada yang mengemukakan dengan kata-kata yang indah atau bermakna sebenarnya, ada juga yang secara terselubung. Oleh sebab itu, kelompok kami tertarik untuk membahas gaya bahasa yang terdapat pada puisi Chairil Anwar.
1.2.  Rumusan Masalah
a.  Gaya bahasa apa saja yang banyak digunakan dalam  puisi Chairil Anwar
b.  Bagaimana makna yang ditimbulkan dari gaya bahasa puisi tersebut

1.3.   Tujuan Penelitian
a. Mampu  mengemukakan gaya bahasa apa saja yang banyak digunakan dalam puisi Chairil Anwar
b. Mampu  mengungkapkan  makna yang ditimbulkan dari gaya bahasa puisi tersebut


1.4.  Hipotesis
            Puisi-puisi karya Chairil Anwar yang kami teliti, yaitu puisi yang berjudul “Penghidupan, Tak Sepadan, dan Sia-sia” sebagian bersar banyak menggunakan Majas atau Gaya Bahasa Hiperbola, sebagai gaya bahasa yang digunakan dalam membuat atau menulis isi puisi tersebut.

1.5. Metode Penelitian
            Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Kualitatif. Teknik pengumpulan datanya anlisis dokumen atau studi pustaka.













BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Puisi
      2.1.1 Pengertian Puisi
            Menurut Blair dan Thandler (HG.Tarigan:1984:4) Puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imaginatif yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan/persyaratan yang bersifat kemasyarakatan yang di utarakan dengan bahasa. Sedangkan menurut Ahdiyat (1986/1987:46) Puisi adalah cipta sastra yang terdiri atas beberapa baris dan baris-baris itu memperlihatkan pertalian makna serta membentuk sebuah bait atau lebih. H.G. Tarigan mengutip pendapat Watts bahwa puisi adalah ekspresi yang kongkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
            Diakses dari http://pheythieq.blogspot.com/2009/05/pengertian-puisi-menurut-para-ahli.html
            Berdasarkan kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa puisi adalah salah satu bentuk cipta sastra atau karya tulis yang bersifat terikat.
2.1.2 Struktur Puisi
a. Struktur Fisik Puisi
 (1)   Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2)  Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3)  Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4)  Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6)   Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup
          (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.),
          (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan
(3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

  b. Struktur Batin Puisi
Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut:
(1)   Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2)   Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3)  Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4)  Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
2.1.3 Jenis Puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
Puisi Lama
Ciri-ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah pantun berkait.
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
Diakses dari http://duniapuisi.110mb.com/jenis-jenis%20puisi.htm
2.2 Gaya Bahasa Puisi
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.

2.2.1 Jenis-jenis Gaya Bahasa :
·         Majas perbandingan
1.    Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2.   Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
5.   Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6.  Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8.   Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9.   Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13.  Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19.  Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22.  Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
·         Majas sindiran
Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
·         Majas penegasan
Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Diakses dari http://bukucatatanadi.blogspot.com/2010/02/kumpulan-gaya-bahasa.html
·         Majas pertentangan
Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

  
BAB III
PEMBAHASAN
          
3.1 PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam
mukul dentur dalam
nguji tenaga pematang kita

mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
kurnia Bahgia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
                                    Chairil Anwar (Desember 1942)

            Pada bait pertama puisi yang berjudul PENGHIDUPAN yang berbunyi //Lautan maha dalam// mengandung majas Metonimia, karena majas ini mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Bait dua dan tiga yang berbunyi //mukul dentur selama// dan //nguji tenaga pematang kita// mengandung majas Hiperbola, karena majas ini mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Selanjutnya, bait empat dan lima yang berbunyi //mukul dentur selama// dan //hingga hancur remuk redam// pun sama mengandung majas Hiperbola. Bait enam, tujuh dan delapan yang berbunyi //Kurnia bahgia//, //kecil setumpuk// dan //sia-sia dilindungi, sia-sia dipupuk//, mengandung  majas Ironi, karena majas ini ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya.
         
3.2 TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

 Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
                                    Chairil Anwar ( Februari 1943)
            Pada bait satu, dua dan tiga puisi yang berjudul TAK SEPADAN yang berbunyi //Aku kira//, //Beginilah nanti jadinya// dan //Kau kawin, beranak dan berbahagia// mengandung majas Ironi, karena majas ini ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Bait keempat yang berbunyi //sedang aku mengembara serupa Ahasveros// mengandung majas Simile, karena majas ini mengandung perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit adalah langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, serupa dengan dan sebagainya.
            Selanjutnya, bait lima, enam dan tujuh yang berbunyi //Dikutuk-sumpahi Eros//, //Aku merangkaki dinding buta//,  dan //Tak satu juga pintu terbuka”// mengandung majas Hiperbola, karena majas ini mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Bait delapan dan sembilan yang berbunyi //Jadi baik juga kita padami//, //Unggunan api ini// mengandung majas Metonimia, karena majas ini mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Dan, bait terakhir yaitu bait sepuluh dan sebelas yang berbunyi //Karena kau tidak ‘kan apa-apa//, //Aku terpanggang tinggal rangka// mengandung majas Hiperbola, karena majas ini mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.

3.3 SIA-SIA
Penghabisa kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar mewah dan melati putih
Darah dan suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dkoyak-koyak sepi
                                    Chairil Anwar (Februari 1943)
            Pada  bait satu dan dua puisi yang berjudul SIA-SIA yang berbunyi //Penghabisa kali itu kau datang//, //Membawa kembang berkarang// mengandung majas Simbolik, karena gaya bahasa kiasan untuk melukiskan sesuatu dengan menggunakan benda – benda sebagai simbol atau perlambang. Bait tiga, empat dan lima yang berbunyi //Mawar mewah dan melati putih//, //Darah dan suci// dan //Kau terbarkan depanku// mengandung majas Alegori, karena majas ini gaya bahasa yang mengungkapkan beberapa perbandingan yang bertaut satu dengan yang lain dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Bait keenam yang berbunyi //Serta pandang yang memastikan: untukmu// mengandung majas Perifrasis, karena majas ini gaya bahasa penguraian sepatah kata diganti dengan serangkaian kata yang mengandung arti yang sama.
            Selanjutnya, bait tujuh, delapan dan sembilan yang berbunyi //Lalu kita sama termangu//, //Saling bertanya: apakah ini?// dan //Cinta? Kita berdua tak mengerti// mengandung majas Retoris, karena berupa pertanyaan yang tidak menuntut suatu jawaban. Bait sepuluh yang berbunyi //Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri// mengandung majas Eufimisme, karena majas ini menyatakan sesuatu dengan ungkapan yang lebih halus. Dan, bait yang terakhir yaitu bait sebelas dan duabelas yang berbunyi //Ah! Hatiku yang tak mau memberi//, //Mampus kau dkoyak-koyak sepi// mengandung majas Hiperbola, karena majas ini mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.

  
BAB IV
PENUTUP

4.1.   Simpulan
Puisi dipahami bukan hanya berdasarkan makna yang tersurat, melainkan juga berdasarkan makna yang tersirat. Makna yang tersirat dapat ditelusuri berdasarkan konteksnya. Konteks disini berarti segala hal yang ada disekitar teks, termasuk proses pembuatan puisi itu sendiri. Puisi yang menggunakan kata-kata konotatif, relatif lebih sulit dipahami. Pembaca dituntut untuk menafsirkan makna kata-kata serta bentuk-bentuk kalimat-kalimat yang agak lain dari pemakaian biasa.
 Selain itu, Beberapa puisi Chairil Anwar yang kami analisis banyak menggunakan bermacam-macam gaya bahasa, namun dari beberapa puisi yang kami analisis, puisi karya Chairil Anwar lebih banyak menggunakan gaya bahasa hiperbola.